Mengapa Harus Bermanhaj Salaf ? (1)
https://ahlussunnah-muna.blogspot.com/2015/02/mengapa-harus-bermanhaj-salaf-1.html
Orang-orang
yang hidup pada zaman Nabi adalah generasi terbaik dari umat ini. Mereka telah
mendapat pujian langsung dari Allah dan Rosul-Nya sebagai sebaik-baik manusia.
Mereka adalah orang-orang yang paling paham agama dan paling baik amalannya
sehingga kepada merekalah kita harus merujuk.
Manhaj Salaf, bila ditinjau dari sisi
kalimat merupakan gabungan dari dua kata; manhaj (مَنْهَجٌ) dan salaf (السَّلَفُ). Manhaj (مَنْهَجٌ) dalam bahasa Arab sama dengan minhaj (مِنْهَاجٌ), yang bermakna: Sebuah jalan yang terang lagi mudah. (Tafsir
Ibnu Katsir 2/63, Al Mu’jamul Wasith 2/957).
Sedangkan
salaf (السَّلَفُ), menurut
etimologi bahasa Arab bermakna: Siapa saja yang telah mendahuluimu dari nenek
moyang dan karib kerabat, yang mereka itu diatasmu dalam hal usia dan
keutamaan. (Lisanul Arab, karya Ibnu Mandhur 7/234). Dan dalam terminologi
syariat bermakna: Para imam terdahulu yang hidup pada tiga abad pertama Islam,
dari para shahabat Rosulullah ?, tabi’in (murid-murid shahabat) dan tabi’ut
tabi’in (murid-murid tabi’in). (Lihat Manhajul Imam Asy Syafi’i fii Itsbatil
‘Aqidah, karya Asy Syaikh Dr. Muhammad bin Abdul Wahhab Al ‘Aqil, 1/55).
Berdasarkan
definisi diatas, maka manhaj salaf (مَنْهجُ
السَّلَفِ) adalah: Suatu istilah untuk sebuah jalan yang terang lagi
mudah, yang telah ditempuh oleh para shahabat Rosulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,
tabi’in dan tabi’ut tabi’in di dalam memahami dienul Islam yang dibawa
Rosulullah shallallahu
‘alaihi wasallam. Seorang yang mengikuti manhaj salaf ini disebut
dengan Salafi atau As Salafi, jamaknya Salafiyyun atau As Salafiyyun. Al Imam
Adz Dzahabi berkata: “As Salafi adalah sebutan bagi siapa saja yang berada
diatas manhaj salaf.” (Siyar A’lamin Nubala, 6/21).
Orang-orang
yang mengikuti manhaj salaf (Salafiyyun) biasa disebut dengan Ahlus Sunnah wal
Jama’ah dikarenakan berpegang teguh dengan Al Qur’an dan As Sunnah dan bersatu
di atasnya. Disebut pula dengan Ahlul Hadits wal Atsar dikarenakan berpegang
teguh dengan hadits dan atsar disaat orang-orang banyak mengedepankan akal.
Disebut pula Al Firqatun Najiyyah, yaitu golongan yang Allah selamatkan dari
neraka (sebagaimana yang akan disebutkan dalam hadits Abdullah bin ‘Amr bin Al
‘Ash), disebut juga Ath Thaifah Al Manshurah, kelompok yang senantiasa ditolong
dan dimenangkan oleh Allah (sebagaimana yang akan disebutkan dalam hadits
Tsauban). (untuk lebih rincinya lihat kitab Ahlul Hadits Humuth Thaifatul
Manshurah An Najiyyah, karya Asy Syaikh Dr. Rabi’ bin Hadi Al Madkhali).
Manhaj
Salaf dan Salafiyyun tidaklah dibatasi (terkungkung) oleh organisasi tertentu,
pemimpin tertentu, partai tertentu, dan sebagainya. Bahkan manhaj salaf
mengajarkan kepada kita bahwa ikatan persaudaraan itu dibangun diatas Al Qur’an
dan Sunnah Rosulullah shallallahu
‘alaihi wasallam dengan pemahaman Salafush Shalih. Siapapun yang
berpegang teguh dengannya maka ia saudara kita, walaupun berada di belahan bumi
yang lain. Suatu ikatan suci yang dihubungkan oleh ikatan manhaj salaf, manhaj
yang ditempuh oleh Rosulullah shallallahu
‘alaihi wasallam dan para shahabatnya.
Manhaj
salaf merupakan manhaj yang harus diikuti dan dipegang erat-erat oleh setiap
muslim didalam memahami agamanya. Mengapa? Karena demikianlah yang dijelaskan
oleh Allah di dalam Al Qur’an dan demikian pula yang dijelaskan oleh Rosulullah
shallallahu ‘alaihi
wasallam dalam Sunnahnya. Sedangkan Allah subhanahu wa ta’ala
telah berwasiat kepada kita (artinya):
“Kemudian
jika kalian berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada
Allah (Al Qur’an) dan Rosul (sunnahnya), jika kalian benar-benar beriman kepada
Allah dan Hari Kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagi kalian) dan lebih
baik akibatnya.” (An Nisaa’: 59)
Adapun
ayat-ayat Al Qur’an yang menjelaskan agar kita benar-benar mengikuti manhaj
salaf adalah sebagai berikut:
1.
Allah subhanahu wa
ta’ala berfirman (artinya):
“Tunjukilah
kami jalan yang lurus. Jalannya orang-orang yang telah Engkau beri nikmat … .”
(Al Fatihah: 6-7)
Al
Imam Ibnul Qayyim berkata: “Mereka adalah orang-orang yang mengetahui kebenaran
dan berusaha untuk mengikutinya…, maka setiap orang yang lebih mengetahui
kebenaran serta lebih konsisten dalam mengikutinya, tentu ia lebih berhak untuk
berada di atas jalan yang lurus. Dan tidak diragukan lagi bahwa para shahabat
Rosulullah shallallahu
‘alaihi wasallam, mereka adalah orang-orang yang lebih berhak untuk
menyandang sifat (gelar) ini daripada orang-orang Rafidhah (Syi’ah).”
(Madaarijus Salikin, 1/72).
Penjelasan
Al Imam Ibnul Qayyim tentang ayat diatas menunjukkan bahwa para shahabat
Rosulullah shallallahu
‘alaihi wasallam –yang mereka itu adalah Salafush Shalih–,
merupakan orang-orang yang lebih berhak menyandang gelar “orang-orang yang
diberi nikmat oleh Allah” dan “orang-orang yang berada di atas jalan yang
lurus”, dikarenakan betapa dalamnya pengetahuan mereka tentang kebenaran dan
betapa konsistennya mereka dalam mengikutinya.
Gelar
ini menunjukkan bahwa manhaj yang mereka tempuh dalam memahami dienul Islam ini
adalah manhaj yang benar dan di atas jalan yang lurus, sehingga orang-orang
yang berusaha mengikuti manhaj dan jejak mereka, berarti telah menempuh manhaj
yang benar, dan berada di atas jalan yang lurus pula.
2.
Allah subhanahu wa
ta’ala berfirman (artinya):
“Dan
barangsiapa menentang Rosul setelah jelas baginya kebenaran, dan mengikuti
selain jalannya orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa bergelimang dalam
kesesatan dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu
seburuk-buruk tempat kembali.” (An Nisaa’: 115)
Al
Imam Ibnu Abi Jamrah Al Andalusi berkata: “Para ulama telah menjelaskan tentang
makna firman Allah (di atas): Sesungguhnya yang dimaksud dengan orang-orang
mukmin disini adalah para shahabat Rosulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan
generasi pertama dari umat ini, karena mereka merupakan orang-orang yang
menyambut syariat ini dengan jiwa yang bersih. Mereka telah menanyakan segala
apa yang tidak dipahami (darinya) dengan sebaik-baik pertanyaan, dan Rosulullah
shallallahu ‘alaihi
wasallam pun telah menjawab dengan jawaban terbaik. Beliau
terangkan dengan keterangan yang sempurna. Dan mereka pun mendengarkan (jawaban
dan keterangan Rosulullah shallallahu
‘alaihi wasallam tersebut), memahaminya, mengamalkannya dengan
sebaik-baiknya, menghafalkannya, dan menyampaikannya dengan penuh kejujuran.
Mereka benar-benar mempunyai keutamaan yang agung atas kita. Yang mana melalui
merekalah hubungan kita tersambungkan dengan Rosulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,
juga dengan Allah subhanahu
wa ta’ala.” (Al Mirqat fii Nahjis Salaf Sabilun Najah, hal. 36-37)
Syaikhul
Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata: “Dan sungguh keduanya (menentang
Rosul dan mengikuti selain jalannya orang-orang mukmin –pen) adalah saling
terkait, maka siapa saja yang menentang Rosul sesudah jelas baginya kebenaran,
pasti ia telah mengikuti selain jalan orang-orang mukmin. Dan siapa saja yang
mengikuti selain jalan orang-orang mukmin maka ia telah menentang Rosul sesudah
jelas baginya kebenaran.” (Majmu’ Fatawa, 7/38).
Setelah
kita mengetahui bahwa orang-orang mukmin dalam ayat ini adalah para shahabat
Rosulullah shallallahu
‘alaihi wasallam (As Salaf), dan juga keterkaitan yang erat antara
menentang Rosul dengan mengikuti selain jalannya orang-orang mukmin, maka
dapatlah disimpulkan bahwa mau tidak mau kita harus mengikuti “manhaj salaf”,
jalannya para shahabat.
Sebab
bila menempuh selain jalan mereka di dalam memahami dienul Islam ini, berarti
kita telah menentang Rosulullah shallallahu
‘alaihi wasallam dan akibatnya sungguh mengerikan… akan dibiarkan
leluasa bergelimang dalam kesesatan… dan kesudahannya masuk ke dalam neraka
Jahannam, seburuk-buruk tempat kembali… na’udzu billahi min dzaalik.
3.
Allah subhanahu wa
ta’ala berfirman (artinya):
“Dan
orang-orang yang terdahulu lagi pertama-tama (masuk Islam) dari kalangan
Muhajirin dan Anshar, serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik,
Allah ridho kepada mereka dan mereka pun ridho kepada Allah, dan Allah
menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai,
mereka kekal abadi di dalamnya. Itulah kesuksesan yang agung.” (At Taubah: 100).
Dalam
ayat ini Allah tidak mengkhususkan ridho dan jaminan jannah (surga)-Nya untuk
para shahabat Muhajirin dan Anshar (As Salaf) semata, akan tetapi orang-orang
yang mengikuti mereka dengan baik pun mendapatkan ridho Allah dan jaminan
jannah (surga) seperti mereka.
Al
Hafidh Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “Allah subhanahu wa ta’ala mengkhabarkan
tentang keridhoan-Nya kepada orang-orang yang terdahulu dari kalangan Muhajirin
dan Anshar, serta orang-orang yang mengikuti jejak mereka dengan baik, dan Ia
juga mengkhabarkan tentang ketulusan ridho mereka kepada Allah, serta apa yang
telah ia sediakan untuk mereka dari jannah-jannah (surga-surga) yang penuh
dengan kenikmatan, dan kenikmatan yang abadi.” (Tafsir Ibnu Katsir, 2/367).
Ini
menunjukkan bahwa mengikuti manhaj salaf akan mengantarkan kepada ridho Allah
dan jannah Allah subhanahu
wa ta’ala. (Bersambung…)
Sumber: www.mahadassalafy.net
