Tentang Para Penggambar
https://ahlussunnah-muna.blogspot.com/2015/05/tentang-para-penggambar.html
Dari Abu Hurairah radhiyallâhu ‘anhu, beliau
berkata: Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda,
قَالَ اللهُ
تَعَالَى: وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ ذَهَبَ يَخْلُقُ كَخَلْقِي، فَلْيَخْلُقُوا
ذَرَّةً، أَوْ لِيَخْلُقُوا حَبَّةً، أَوْ لِيَخْلُقُوا شَعِيرَةً
“Allah Ta’âlâ berfirman, ‘Siapakah yang
(perbuatannya) lebih zhalim daripada orang yang (bermaksud) mencipta seperti
ciptaan-Ku? Maka cobalah mereka (untuk) mencipta seekor semut terkecil, sebutir
biji-bijian, atau sebutir gandum.’.”
Dikeluarkan oleh keduanya (Al-Bukhâry dan Muslim).
Dikeluarkan oleh keduanya (Al-Bukhâry dan Muslim).
Karena menggambar merupakan sarana (yang
mengantar kepada) kesyirikan -yang merupakan lawan tauhid-, sangatlah tepat
bagi penulis untuk meletakkan bab ini guna menjelaskan keharaman perbuatan
tersebut juga (menjelaskan) hal-hal yang datang tentang (perbuatan) itu berupa
ancaman keras.
Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam meriwayatkan
dari Rabb-nya ‘Azza wa Jalla bahwa Dia berfirman, “Tiada seorang pun yang
kezhalimannya lebih dahsyat daripada penggambar lukisan yang berbentuk ciptaan
Allah,” karena dengan begitu ia berupaya untuk menyerupai Allah dalam
perbuatan-Nya.
Kemudian Allah ‘Azza wa Jalla menantangnya dan
menjelaskan kelemahan orang seperti itu untuk menciptakan sesuatu yang paling
kecil dari ciptaan-ciptaan-Nya yaitu dzarrah (semut yang paling kecil), bahkan
dia tidak mampu menciptakan yang lebih rendah daripada hal itu, yaitu benda
mati yang kecil (biji gandum atau biji lain). Meskipun demikian mereka tidak
mempunyai kesanggupan atas semua itu, karena memang Allah bersendirian dalam
penciptaan.
Karena hadits ini menunjukkan keharaman membuat gambar, dan bahwa hal itu tergolong ke dalam kezhaliman terbesar.
Karena hadits ini menunjukkan keharaman membuat gambar, dan bahwa hal itu tergolong ke dalam kezhaliman terbesar.
Faedah Hadits
1. Keharaman membuat gambar dengan sarana
apapun yang ada, dan bahwa pembuat gambar adalah termasuk orang yang paling
zhalim.
2. Menyifati Allah, bahwasanya Allah berbicara.
3. Bahwa membuat gambar adalah menyamai
penciptaan Allah dan merupakan upaya untuk berserikat dengan-Nya dalam
penciptaan.
4. Bahwa kemampuan menciptakan adalah
kekhususan Allah Subhânahu wa Ta’âla.
[Diringkas dari Kitab Penjelasan Ringkas
Kitab Tauhid karya Syaikh Shalih Al-Fauzan]
